Sabtu, 10 Juli 2010

Menuju dimensi spiritual



Dimensi Emosional dan Spiritual menjadi pendekatan dari berbagai profesi dan keilmuan. Munculnya konsep ESQ oleh Ary Ginanjar mengawali masyarakat di Indonesia mendekatkan diri ke sisi Emosional dan Spiritualnya. Hal ini bahkan di tanggapi positif oleh banyak korporasi di Negeri Nusantara ini. Peningkatan produktivitas perusahaan membuat konsep ini diterima. Selain itu lahir pula di luar Negeri konsep Emotional Quotion dengan berbagai macam pendekatan, mulai dari perilaku positif, berpikir positif, berjualan dengan memanfaatkan sisi emosional dan yang lainnya lagi. Muncl juga buku The 7 habits yang disusul buku selanjutnya The 8 Habits. Yang pada habit terakhir menyebutkan tentang spiritualitas.


Ya.. kita bisa merasakan sekarang, bahwa era masa ini adalah masa Emotional dan Spiritual.
Hermawan Kartajaya dalam bukunya Marketing Syariah mengatakan " saat ini dan masa datang , apalagi setelah pecahnya skandal keuangan di Amerika serikat dengan tumbangnya perusahaan – perusahaan raksasa, seperti Enron, WorldCom, atau Global Crossing, era pemasaran telah bergeser lagi ke arah Spiritual marketing.

Peristiwa ini menggambarkan bahwa ada pergeseran dari era jasadiyah (Fisik), ke era akal (intelektual Quotion) dan sekarang sudah memasuki era hati / emotional / spiritual.
Apabila kita mencermati, kata – kata emotional dan spiritual merupakan istilah untuk menutupi kecenderungan mereka pada fitroh hakiki yaitu Syariah. (orang lain luar membaca spiritual marketing dan kita menyebut marketing Syariah ). Sebenarnya kecenderungan ke arah Fitroh merupakan kecenderungan yang pasti merasuki ke jiwa setiap manusia. Tinggal apakan ada wadah yang bisa menampung kecenderungan itu.
Apabila dalam diri kita kecenderungan ke arah fitroh itu baru muncul. Ada saran yang bagus untuk anda :
  1. Lakukan perbuatan perbuatan kecil yang berkaitan dengan spiritual atau amal ibadah. ciptakan keberhasilan keberhasilan kecil tentang kebaikan. Karena satu kebaikan akan memunculkan kebaikan yang selanjutnya. (dalam bahasa Aa Gym : mulai dari yang kecil)

  2. Ciptakan atau cari lingkungan yang dapat menjaga kecenderungan.
    (siapa yang bergaul dengan pandai pesi maka akan terkena percikan baranya, siapa yang bergaul dengan pembuat minyak wangi maka akan terkena harumnya.)

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar