Kamis, 26 Mei 2011

Ekonomi Makro Sederhana


Bab ini menjelaskan model ekonomi makro dari bentuk yang paling sederhana sampai pada bentuk yang kompleks.

A.    Ekonomi Satu Pulau Satu Orang
Bayangkan perekonomian yang hanya terdiri dari satu orang yang tinggal di satu pulau.  Setiap hari ia memancing ikan untuk dimakan hari itu juga.  Sehingga sampai pada suatu hari, ia berpikir alangkah enaknya bila ia hari ini memancing berselang hari: sehari memancing, sehari libur.  Untuk itu ia harus memancing lebih banyak ikan dalam satu hari agar ia dapat menyimpan ikan untuk keesokan harinya.  Secara formal, kita dapat merumuskan keadaan ini sebagai berikut:

f (Nt) adalah fungsi produksi yang menggambarkan banyaknya output (ikan yang dipancing) ditentukan oleh tenaga kerja N (usaha yang dikerahkan untuk memancing ikan).  Karena ia tidak mempunyai sumber pendapatan lain, maka jumlah output (ikan yang didapat) sama dengan jumlah pendapatannya yaitu Yt.  Karena setiap hari ikan yang didapatnya (Yt) habis dimakan hari itu juga, maka Yt sama dengan konsumsinya yaitu Ct.




Grafik 2.1. .................................................


Bila ia menyimpan sebagian ikan tangkapannya:





Tidak seluruh tangkapannya ia makan hari itu juga, sebagian ia simpan sebesar St.  Simpanan ini yang akan ia makan keesokan harinya sebesar Ct+1.

Bila ia makan ikan simpanan itu keesokan harinya:
Semakin banyak ia bekerja, semakin banyak ikan yang ia tangkap, akan semakin besar simpanannya; tentu saja dengan asumsi bahwa ikan yang dinakan hari itu sama banyaknya yaitu Ct.  Di sisi lain, semakin banyak ia bekerja berarti semakin sedikit waktu istirahatnya pada hari itu.  Dengan adanya simpanan, ini juga berarti semakin banyak waktu istirahatnya di keesokan harinya (atau bahkan di hari-hari mendatang)[1].

B.     Ekonomi Satu Pulau Lima Orang
Sekarang bayangkanlah ada satu kapal tenggelam di tengah laut, semua penumpangnya meninggal atau hilang, kecuali empat orang  yang terdampar di pulau tersebut.  Jadi di pulau itu sekarang ada lima orang.  Orang pertama memiliki ikan hasil tangkapannya, orang kedua memiliki beras yang dibawanya dari kapal, orang ketiga memiliki kantong tidur (sleeping bag) yang  selalu dibawanya, orang keempat memiliki pisau kesayangannya, dan orang kelima memiliki radio kecil.
Untuk bertahan hidup, masing-masing orang memancing ikannya sendiri-sendiri.  Tentu saja orang pertama yang telah berpengalaman memancing ikan, selalu mendapat ikan yang lebih banyak, dan beristirahat keesokan harinya.  Bila ia ingin makan ikan bakar tanpa harus susah payah menyalakan api, maka ia meminjam pisau orang keempat dengan imbalan memberi sebagian ikan simpanannya.  Bila ia ingin makan ikan bakar sambil mendengarkan radio, ia meminjam radio dengan memberi imbalan ikan simpanannya kepada orang kelima.  Begitu seterusnya.  Tidak selamanya pertukaran itu berlangsung mulus, ada kalanya ia tidak ingin meminjam pisau sedangkan orang keempat sangat memerlukan ikan.  Atau ia sangat ingin beras, padahal orang kedua ingin berasnya ditukar dengan radio agar dapat berhubungan dengan dunia luar.  Bukan saja tidak mulus, bahkan juga diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencari kecocokan apa yang akan ditukar dengan siapa.  Keadaan ini dalam ilmu ekonomi disebut double coincidence needs  yaitu pertukaran hanya dapat terjadi bila ada keinginan yang cocok antara kedua pihak.  

C.    Ekonomi Satu Pulau Lima Orang dan Uang dari Langit
Sekarang bayangkanlah, ada sebuah helicopter yang baru saja merampok bank. Untuk jejak, uang hasil rampokan tersebut dijatuhkan ke beberapa pulau sebagai tempat penyimpanan harta rampokan.  Uang yang dijatuhkan dari helicopter tersebut (helicopter money) diantaranya jatuh di pulau tempat kelima orang tadi, lebih tepatnya, jatuh tepat didepan orang pertama.  Katakan saja jumlah uangnya adalah M1 yaitu sebesar 1 juta rupiah.  Jadi sekarang telah terjadi perubahan jadi ekonomi tanpa uang (moneyless economy) menjadi ekonomi uang (money economy).
Orang pertama menawarkan kepada orang kedua, inginkah ia menukar berasnya dengan uang tersebut.  Orang kedua setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralihlah uang tersebut kepada orang kedua. 
Orang kedua menawarkan kepada orang ketiga, inginkah ia menukar sleeping bag nya dengan uang tersebut.  Orang ketiga juga setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralih pula uang tersebut kepada orang ketiga.
Orang ketiga menawarkan kepada orang keempat, inginkah ia menukar pisau miliknya dengan uang tersebut.  Orang keempat setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralih lagi uang tersebut kepada orang keempat.
Orang keempat menawarkan kepada orang kelima, inginkah ia menukar radio miliknya dengan uang tersebut.  Orang kelima setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralih lagi uang itu kepada orang kelima.
Orang kelima menawarkan kepada orang pertama, inginkah ia menukar ikan tangkapannya dengan uang tersebut.  Orang pertama setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya.  Beralih kembali uang itu kepada orang pertama.
Secara formal dikatakan bahwa jumlah uang yang beredar dalam ekonomi adalah M1 (money at time 1), berapa kali uang tersebut berpindah tangan adalah V1 (velocity of money at time 1), harga masing-masing barang yang dipertukarkan adalah P1 (price at time 1), dan jumlah barang yang dipertukarkan adalah T1 (goods being traded at time 1). Dalam contoh ini:
M1  =   Rp 1 juta
V1   =   5 kali
P1    =   Rp 1 juta
T1    =   5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)

Bila transaksi ini dirumuskan dalam rumus matematik[2]:
                        M1 x V1            =     P1 x T1
                        Rp 1 juta x 5  =     Rp 1 juta x 5

Sekarang katakanlah, helicopter ini menjatuhkan lagi uang sejumlah Rp 2 juta, dan jatuh lagi tepat didepan orang pertama. Proses yang sama terjadi, orang pertama menawarkan uang tersebut kepada orang kedua untuk ditukar dengan beras.  Orang pertama setuju asalkan seluruh uang tersebut untuknya yaitu sejumlah Rp 3 juta (Rp 1 juta pertama dan Rp 2 juta kedua).  Uang tersebut beralih kepada orang kedua.  Dan begitu seterusnya sebagaimana telah terjadi sebelumnya.  Perbedaannya adalah jumlah uang beredar sekarang M2 jumlahnya Rp 3 juta.  Harga masing-masing barang pun sekarang berubah menjadi P2 yaitu Rp 3 juta. Secara formal dapat ditulis:
M=   Rp 3 juta
V2   =   5 kali
P2   =   Rp 3 juta
T2   =   5 (ikan, beras, sleeping bag, pisau, radio)

Bila transaksi ini dirumuskan dalam rumus matematik:
                        M2 x V2            =         P2 x T2
                        Rp 3 juta x 5  =         Rp 3 juta x 5

Jadi kenaikan jumlah uang beredar ternyata telah meningkatkan harga masing-masing barang.  Kenaikan harga-harga secara umum ini disebut inflasi.[3]
Dalam contoh ini juga terlihat bahwa perubahan aspek moneter yaitu jumlah uang yang beredar, ternyata tidak membawa perubahan apa-apa pada ekonomi riil.  Jumlah barang yang dipertukarkan dalam ekonomi tidak berubah.  Pendapatan nominal setiap kali menjual barang memang naik dari Rp 1 menjadi Rp 3 juta.  Namun kenaikan pendapatan nominal itu tidak meningkatkan daya beli uang, sehingga pendapatan riil tidak berubah.  Yang berubah adalah harga-harga barang.  Dalam ilmu ekonomi keadaan ini disebut sebagai money neutrality yaitu perubahan yang sifatnya ’once and for all’ atas jumlah uang beredar tidak mengubah variabel-variabel ekonomi sektor riil seperti pendapatan riil.  Secara formal neutrality of money didefinisikan sebagai[4]:

”The theoretical finding that once-and-for-all changes in the nominal quantity of money affect nominal variables such as the general price level but leave real variables such as real gross national product unaffected”

Bila perubahan jumlah uang yang beredar tidak hanya terjdi ’once and for all’, namun terjadinya berulang kali dengan pola dinamis, dan ternyata tetap tidak mengubah variable ekonomi sector riil disebut money superneutrality.  Secara formal superneutrality of money didefinisikan sebagai[5]:

“The theoretical finding that a change in the pattern over time of monetary growth does not affect real variables such as aggregate output and the real interest rate[6]

Ibnu Khaldun merumuskan supernuetrality of money ini sebagai berikut[7]:

“Kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang yang dimilikinya.  Namun ia ditentukan oleh berapa besar kemampuan negara itu memproduksi barang dan jasa, serta efisiensi negara tersebut dalam memproduksi”

Hal ini disampaikan oleh Ibnu Khaldun untuk mengatasi kecenderungan ketika itu dimana Pemerintah seringkali melakukan ekspansi moneter dengan menambah jumlah fulus[8] di masyarakat.  Kekayaan Negara ditentukan oleh kapasitas produksinya (dalam ilmu mikro ekonomi disebut Production Possibility Frontier, dalam ekonomi makro disebut Full Capacity Economy), dan efisiensi produksinya (dalam ilmu ekonomi mikro Negara yang lebih efisien dalam memproduksi suatu jenis barang disebut memiliki keunggulan komparatif, dalam ilmu ekonomi makro Negara yang efisien dapat meng ekspor barangnya ke luar negeri, dan bila ekspornya lebih besar daripada impornya disebut memiliki surplus Neraca Perdagangan).

D.    Ekonomi Satu Pulau Lima Orang, Uang dari dari Langit, dan Raja
Sekarang bayangkanlah, orang pertama sebagai orang yang pertama kali ada dipulau itu dan paling berpengalaman menangkap ikan serta selalu saja uang dari helicopter jatuh di depan orang pertama, menjadi orang yang paling dominan dalam perekonomian pulau itu.  Demikian dominannya sehingga keempat orang lain sepakat menunjuk orang pertama menjadi pemimpin mereka.  Ini diperlukan untuk mengatur lokasi pemancingan masing-masing orang.  Jadi sekarang telah terjadi perubahan dari perekonomian tanpa pemerintah menjadi perekonomian dengan pemerintah dimana orang pertama menjadi rajanya.
Ada dua perubahan penting dalam perekonomian pulau itu dengan ditunjuknya orang pertama sebagai raja, yaitu:

1.      Adanya Kepemimpinan
Menurut kesepakatan di pulau itu, orang pertama mempunyai hak untuk mengatur agar kegiatan ekonomi berjalan dengan adil yaitu memastikan tidak ada satu pihakpun yang terzalimi.[9]  Hal ini dianggap penting karena suatu hari ketika orang keempat menukar uangnya dengan radio milik orang kelima, ternyata orang kelima berbuat curang dengan menahan batere radio tersebut.  Orang kelima berdalih bahwa yang ia tukarkan adalah radio, tidak termasuk batere.  Sehingga terjadi keributan.

2.      Adanya efektifitas kepemimpinan
Keadaan objektif yang membuat kepemimpinan orang pertama dapat berjalan efektif adalah ia mempunyai kekuatan ekonomi yang paling besar.[10]  Ia menjadi pembeli terbesar karena dengan tangkapan ikan dan uang dari helicopternya, ia memiliki daya beli besar (purchasing power) untuk dapat menukar dengan barang-barang milik orang lainnya.  Ia juga menjadi penjual terbesar karena sumberdaya awal (initial endowment) yang dimilikinya berupa ikan tangkapan dan uang dari helicopter.  Kefektifan kepemimpinan ini penting karena sebelumnya orang kedua berusaha menjadi pemimpin dengan beras yang dimilikinya sebagai modal kekuatan ekonominya.  Orang kedua berpikir karena semua orang pasti memerlukan beras, maka sumberdaya yang dimilikinya menjadi faktor paling strategis untuk menjadi pemimpin.  Namun ternyata ketiga orang lainnya makan ”daging” kelapa muda belajar dari orang pertama bagaimana mengatasi ketiadaan beras di pulau itu.

Dampak adanya kepemimpinan:
Ditunjuknya orang pertama sebagai pemimpin menimbulkan implikasi baru.  Jasa yang diberikannya untuk memastikan mekanisme pasar berjalan secara adil merupakan kenikmatan yang diperoleh oleh orang-orang pulau itu.  Untuk itulah mereka bersedia memberikan kompensasi kepada orang pertama penghargaan berupa uang atau barang.  Uang penghargaan inilah yang kemudian dikenal sebagai pajak.  Bahkan keempat orang itu bersedia membayar pajak lebih banyak bila digunakan untuk menyediakan hal-hal yang berguna bagi mereka, misalnya untuk memasang obor di pelosok pulau sehingga mobilitas mereka di malam hari menjadi lebih mudah.

Dampak adanya efektifitas kepemimpinan:
Kekuatan ekonomi yang dimiliki orang pertama menimbulkan implikasi baru. Transaksi di pulau menjadi lebih efisien lagi.  Orang-orang selain orang pertama, kini dapat menjual miliknya kepada orang pertama.  Selanjutnya bila mereka memerlukan sesuatu, mereka dapat memperolehnya dari orang pertama.  Orang pertama telah berubah menjadi seorang produsen, konsumen, sekaligus seorang pedagang.  Sebagai seorang pedagang, ia membeli barang untuk menjualnya lagi.  Bila orang kedua ingin menukar sesuatu, ia mendatangi orang pertama, menjual berasnya, mendapat bayaran uang, kemudian dengan uangnya itu ia membeli sleeping bag atau pisau, atau radio dari persediaan yang dimiliki orang pertama.  Begitu pula dengan orang ketiga dan seterusnya.  Mereka membawa barang yang mereka miliki, menjualnya pada orang pertama, kemudian membeli barang yang mereka perlukan dari orang pertama.


E.     Ekonomi Banyak Pulau, Banyak Orang, Banyak Uang, Banyak Raja
Kini saatnya masuk pada keadaan yang mendekati perekonomian yang sebenarnya. 

( bukak part 2 nya)

[1] Untuk tetap focus pada bahasan Y = C + S, maka bahasan bagaimana mengalokasikan waktu bekerja dan waktu istirahat tidak diuraikan lebih lanjut.  Secara formal fungsi utilitas ditulis sebagai:
 Ut = U (Ct, Nt)
              (+) (-)
Penjelasan rinci lihat Robert J Barro (1990), Macroeconomics 3rd Ed. Bab 2, New York: John Wiley.
[2] Persamaan ini dikenal sebagai Fisher Equation karena diperkenalkan oleh Irving Fisher
[3] Fenomena ini dirumuskan oleh Milton Freidman dalam kalimatnya yang terkenal, “Inflation is just a monetary phenomenon”
[4] Robert J Barro (1990), Macroeconomics 3rd Ed, New York: John Wiley, halaman 562
[5] Op.Cit, halaman 565
[6] Penggunaan real interest rate, bahkan juga nominal interest rate, tidak penting sama sekali dalam suatu perekonomian.  Ia memang dapat digunakan sebagai proxy (ukuran pendekatan) terhadap return on investment.  Pembahasan hal ini dalam konteks ekonomi makro islami akan dijelaskan pada akhir bab ini.
[7] Adiwarman Karim (2004), Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Bab 4, Edisi 2, Jakarta: Rajawali Press
[8] Fulus adalah uang yang terbuat dari tembaga.  Dalam perkembangannya fulus juga didefinisikan sebagai uang yang tidak terbuat atau dikaitakn nilainya dengan emas atau perak.
[9] Dalam fikih salah satu tugas pemerintah adalah “haqqal ghairu muhafazun ‘alaihi syar’an” (memberi hak kepada penjual dan pembeli menentukan harga sekaligus melindungi keduanya)
[10] Menurut Ibnu Khaldun, pemerintah adalah ibu segala pasar artinya ia adalah pembeli besar dan penjaul besar.  Lihat Adiwarman Karim (20..), Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Edisi 2, Jakarta: Rajawali Press


(Diambil dari materi NTT FOSSEI  )

Reactions:

1 comments: