Senin, 12 Desember 2011

Tombol Motivasi (Part 2-end)

Tombol Motivasi (Part 2-end)
Diambil dari buku ProFil
Seri NLP Populer

Anwar : Ya. tentu, Saya mau sekali. Di mana orangnya ? (sambil berdiri dan seluruh peserta tertawa)
RHW   : Untuk anda yang bekerja dalam bidang sales, memahami kriteria pelanggan anda sebelum anda menawarkan produk, akan sangat membantu sebelum mengarah ke proses closing. Misalnya, bila saya pedagang mobil. Datang seorang pelanggan yang ingin membeli mobil dengan Kriteria sebagai berikut : serba guna, mudah perawatan, hemat bahan bakar dan harga jualnya baik. Mobil apa yang kira kira cocok saya tawarkan pada calon pelanggan saya ini?
Pria      : Toyota Kijang.
Mei      : Panther.
Ronny   : Daihatsu Xenia atau Toyota Avanza.
RHW   : Ya. Sebaliknya, apa yang saya tawarkan bila ada pelanggan mencari mobil dengan Kriteria : model cangih, cepat dann ekslusif?
Ronny : Ferrari.
Mei      : BMW, Jaguar atau Mercy.
Megie  : Mazda RX-8 atau mobil Sport lainnya.
RHW   : Persis. Jadi tanyakan dulu apa Kriteria moil yang dicari sebelum kita menawarkan produk kepada calon pelanggan kita. semakin jelas Kriteria, semakin mudah kia memahami apa keinginannya. Dan pada saat kita menawarkan mobil yang persis dengan Kriteria yang diinginkan, garansi dia akan termotivasi untuk melakukan proses selanjutnya. Sama halnya dengan kita. Sebelum kita membeli sesuatu, kita pasti memiliki sejumlah Kriteria dari barang yang kita inginkan. sebagai contoh, ketika saya mau membeli tape recorder . Si pramuniaga bertanya : “Apa yang saya inginkan dari sebuah tape?”
Mei      : saya ingin Tanya pak, apa yang terjadi bila hanya sebagian saja dari Kriteria yang terpenuhi?
RHW   : Ini pertanyaan bagus. Seringkali orang memberikan Kriteria yang saling tumpang tindih dan sulit dipenuhi. Misalnya, ada orang yang mencari mobil dengan Kriteria: murah dan ekslusif. Saya kira dua Kriteria ini sulit dipenuhi secara berbarengan. Sebuah mobil yang murah harganya tentu tidak ekslusif, karena banyak orang yang mampu membelinya. Juga, terlalu banyak Kriteria membuat sulit dipenuhinya keinginannya. Misalnya, ada orang yang pacar dengan lebih dari 20 kriteria, antara lain : cantik, manis, pintar, kaya, setia, terkenal, putih , seksi, anak tunggal, saying keluarga, pandai memasak, betah di rumah, hemat dan seterusnya. Kita sebuat apa orang seperti ini?
Mei      : Orang yang sulit dipenuhi keinginannya.
Pia       : Orang yang lama mengambil keputusan dan akhirnya sering menunda mengambi keputusan.
Pongki : Tapi, mungkin saja kan dunia ini ada gadis semacam itu?
Mei      : Ya. Mungkin ada . Pertanyaannya apa dia MAU sama ANDA? (Kelas gerrrrr!) Tentu gadis dengan kelebihan seperti itu juga ingin mencari pacar yang ganteng, tanggung jawab, pinter, penyayang, dari kelaurga baik baik, masa depannya cerah, posisi tinggi, dst, dst.
RHW   : OK. Jadi untuk menjawab pertanyaan Mei, tidak ada patokan tentang jumlah Kriteria yang kita memiliki sebelum kita membeli sesuatu. Cuma, semakin banyak Kriteria menjadi semakin sulit dipenuhi dan bila ada Kriteria yang ‘tabrakan’ juga akan sulit dipenuhi.
            Dalam konteks keluarga, saya sering melihat konflik antara orang tua dan anaknya dalam memilih jodoh, misalnya. Sering anak menjadi frustasi karena Kriteria tentang pacar yang diinginkannya tidak cocok dengan Kriteria orang tuanya.
           
            Menurut saya, bila anda sekarang punya anak gadis atau jejaka yang sedang dalam poses berpacaran, lebih baik anda  melakukan bargaining lebih dahulu. pertama, katakana pada anak anda tentang Kriteria calon mantu yang anda inginkan. Kedua, dengarkan Kriteria anak anda dan kemudian cari kompromi dari keduanya. Kadang, orang tua tidak pernah maumengutarakan keinginannya dan tiba tibaketika anaknya memperkenalkan ‘calon’ ke rumahnya, orang tuanya menolak dan tanpa alasan!
Pongki : Tapi saya kira, karena yang mau kawin anaknya, sebaiknya Kriteria orang tuanya diabaikan saja!
RHW   : Sulit melakukan itu dalam kultur kita, kecuali anda orang tuanya sangat moderat. Dalam kultur Jawa, misalnya Kriteria bibit, bebet, bobot masih kental mewarnai keputusan keluarga dalam mencari jodoh untuk anaknya. memang, sekarang sudah mulai melunak persyaratan itu dan bahkan beberapa keluarga sudah mulai membebaskan pada pilihan anaknya masing masing. Jadi mungkin lebih baik apabila diadakan semacam ‘saling pengertian’ dulu antara anak dan orangtuanya.

            Sekarang mari kita terapkan alikasi Kriteria dalam bidang manajemne. Kriteria bisa dipakai ketika anda sedang mencari karyawan. Anda Tanya pada calon tersebut pertanyaan : “Apa yang anda inginkan dari sebuah pekerjaan?” Dengarkan jawabannya dan kalau Kriteria yang disebutkan sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditawarkan berarti calon itu memenuhi Kriteria kita. Misalnya, Anda bergerak dalam bidang agne penjual rumah dan mencari calon yang memenuhi Kriteria : suka bergaul, pandai berkomunikasi senang dengan pekerjaan diluar ruangan. Dan katika calon memiliki Kriteria : lebih menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan alat, duduk dibelakang meja dan tidak terlalu mengandalkan kegiatan fisik—saya kira ini tidak cocok dengan Kriteria property broker yang sedang kita cari.
Nelly   : Berarti Kriteria bisa juga dipakai ketika sedang mencari kerja?
RHW   : Ya. Hal yang sama berlaku sebaliknya. Ketika kita sedang melamar sebuah pekerjaan, ada baiknya anda mencari tahu atau menanyakan : “apa yang anda inginkan dari seorang calon karyawan?” Dengarkan jawabannya dan apakah cocok dengan Kriteria yang kita miliki. Percuma kita memaksa masuk ke sebuah pekerjaan yang tidak cocok dengan Kriteria kita, karena kita bisa frustasi dan tidak betah. Atau perusahaan itu yang tidak ‘betah’ dengan kita dan akhirya kita diberhentikan sebelum tiga bulan.
Nelly   : bukankah uang menjadi Kriteria atau motivator tertinggi buat seorang dalam mencari kerja?
RHW   : Tidak selalu. Mungkin buat calon yang baru lulus kuliah, mencari pengalaman lebih penting daripada uang sementara waktu. Saya kira untuk orang yang sudah cukup tua dan mempunyai keluarga, kepastian kerja akan lebih penting ketimbang sekedar uang. Apalagi seseorang yang usainya sudah 45 tahun, memiliki istri dan 3 orang anak mau pindah kerja dengan gaji yang lebih besar kalau basisnya adalah kontrak? saya ragu. Saya kira orang ini lebih memilih pekerjaan tetap karena setiap bulannya pasti membawa uang ke rumah untuk keperluan rumah tangganya, daripada memilih kerja kontrak yang setiap saat bisa diputus di tengah jalan dan tidak ada kepastian.
Nelly   : Ya. Masuk akal.
RHW   : Juga, saya sarankan pada anda yang masih muda dan masih memiliki karir panjang, sebaiknya anda memiliki track record yang baik. kalaupun pertimbangan anda mencari kerja hanya uang dan setiap 6 bulan seklai pindah kerja asal gajinya lebih besar, hal ini sangat berbahaya. Nantinya anda akan punya curriculum vitae yang buruk karena dikenal sebagai ‘kutu loncat’ dan pada suatu ketika anda akan kesulitan mencari kerja. Apalagi kalau anda mencari kerja dengn posisis manajerial. Seorang manajer diharapkan punya loyalitas, selain jam terbang yang tinggi. sering pindah kerja bisa menunjukan ketidak loyalan orang atau meungkin dianggap kurang matang mendalami sesuatu.
END

Reactions:

0 comments:

Posting Komentar